BERBAGI

Dinas Pertanian kabupaten Poso Bersama dengan Rainforest Alliance menyelenggarakan kegiatan Workshop bertemakan pertanian yang berjelanjutan untuk Konservasi Danau Poso dan Proteksi DAS pada tanggal 27 juni 2019 di hotel kartika Poso. Tujuan workshop ini adalah untuk mengurangi dampak dan residu dari aktivitas pertanian terhadap danau poso dan ekosistem lahan basah di desa desa penyangga danau Poso. Rainforest Alliance adalah sebuah organisasi non-pemerintah (LSM) yang bekerja untuk melestarikan keanekaragaman hayati dan kelangsungan ekologis dengan mengawasi praktek-praktek penggunaan lahan. Sejak tahun 2014, Rainforest Alliance (RA) melakukan pendampingan petani kakao untuk mendapatkan sertifikasi pertanian berkelanjutan. Pada tahun 2018 atas dukungan CEPF (Critical Ecosystem Partnership Fund) bersama dengan Dinas Pertanian bekerja di lima Komunitas di Kecamatan Pamona selatan Poso yaitu Desa Panjo, Bancea, Bo’e, Pendolo dan Pasir putih.  Hasil kajian menunjukkan bahwa Danau poso menghadapi tekanan- tekanan dari kegiatan manusia disekitar danau Poso yang menyebabkan kemungkinan kehilangan keanekaragaman hayati dan kehilangan kemampuan layanan jasa lingkungannya sebagai penyedia air bersih, sumber penghidupan, sumber energi dan dukungan kesetimbangan hidrologis di Kabupaten poso.

Kegiatan Workshop di buka oleh Sekertaris Daerah kabupaten Poso, dalam sambutannya di depan peserta yang diantaranya berasal dari Kecamatan Pamona Selatan dan SKPD Kabupaten Poso menekankan bahwa Praktek pertanian berkelanjutan tentunya tidak lepas dari bagaimana memanfaatkan dukungan SDA yang ada untuk memaksimalkan hasil pertanian dengan tetap menjaga ekosistem sekitar sebagai factor pendukung peningkatan hasil pertanian. Memanfaatkan potensi SDA yang ada seperti daerah aliran sungai poso yang bersumber dari danau poso yang tidak pernah kering membuat kualitas tanah pertanian kita subur dan cocok dengan berbagai jenis tanaman pertanian. Olehnya konservasi danau dibutuhkan untuk menjaga dan memperbaiki serta mengembalikan fungsi danau. Konservasi yang dimaksud meliputi kegiatan perlindungan pengawetan dan pemanfaatan secara lestari untuk memelihara keberlanjutan fungsi lingkungan sebagai penyangga khidupan dan keanekaragaman hayati. Melalui workshop penting dan strategis ini selaku pemerintah daerah saya berharap ada langkah konkrit dan nyata yang kita lakukan secara bersama melalui disseminasi rekomendasi bersama dari lima komunitas (Desa Panjo, Bancea, Bo’e, Pendolo dan Pasir Putih) di kecamatan Pamona Selatan.

Sementara itu, Cocoa Manager dari Rainforest Alliance Hasrun Hafid menyampaikan harapan besar akan masa depan danau poso sebagai sumber penghidupan dan potensi masa depan masyarakat Poso. Saat ini kita harus bersama sama menghadapi berbagai bencana lingkungan dan kerusakan disekitar danau.  Saat ini masih banyak action plan atau perencanaan yang dibangun oleh masing-masing institusi dan belum terpadu. Sayang sekali dengan banyaknya Perencanaan,  aktivitas penrusakan belim bisa terhenti. Sehingga kami mendorong perencanaan terpadu dengan segala pihak dari desa hingga provinsi, dari warga, petani hingga stakeholder lebih luas untuk mendapatkan informasi dan membawanya dalam workshop ini dan dapat ditindaklanjuti dan diadopsi dalam dokumen perencanaan yang strategis. Kami akan mendorong agar terbangun harmonisasi antara masyarakat dan lingkungan sekitarnya sehingga baik hutannya maupun masyarakat, tumbuh secara harmoni.

Dalam workshop ini turut menjadi pembicara dalam panelis yaitu Dr. Meria Tirsa Gundo, Sekertaris Dinas Pertanian ibu Ir. Ester Silintowe Santo, Msi, Kepala Bidang Ekonomi dan SDA Bapelitbangda Simon Tiolemba, SP, perwakilan Burung Indonesia dan dari Rainforest Alliance. Meria Tirsa Gundo yang juga peneliti dari Universitas Sintuwu Maroso dalam penelitiannya di tahun 2018 dan 2019 mengutarakan bahwa tingginya laju erosi dan sedimentasi di muara sungai Kodina telah berkontribusi terhadap tingginya konsentrasi padatan tersuspensi yang ditemukan di stasiun pengamatan sungai Kodina. Kemudian Padatan tersuspensi yang tinggi telah  menyebabkan kekeruhan perairan yang tinggi yang juga di tandai dengan tingkat kecerahan perairan yang rendah. konsentrasi senyawa posfat yang cukup tinggi menunjukkan telah terjadi pengkayaan nutrin dalam Badan air diwilayah studi. Kemudian adanya plankton sianobakteria yang biasa menyerang kulit. Sementara dari Dinas pertanian menekankan untuk prioritas memilih pertanian organik, salah satu model yang dapat diterapkan. Sistem pertanian organik yaitu menganut asas kelestarian ekosistem, kemantapan produksi yang stabil dan kemudian keamanan produk untuk dikonsumsi. Selain permasalahan pertanian, masalah utama juga dihadapi adalah sampah yang tidak terkelola. Sehingga sampah terbuang ke lingkungan, sungai dan danau. Hal ini terjadi karena tidak adanya TPA dan satuan pengangkutan atau pengelola sampah. Hal ini perlu diwaspadai dan segera dilakukan tindakan karena akan menjadi masalah yang berlanjut kedepannya, dimana ini mengemuka saat diskusi kelompok pada sesi kedua.

Baca Juga :  GEDUNG WANITA POSO KEMBALI DIRESMIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Enter Captcha Here : *

Reload Image