Sen08212017

Last update04:53:29 AM GMT

Font Size

Profile

Menu Style

Cpanel
Back Home PROFIL

Visi Dan Misi

VISI  : TERWUJUDNYA KABUPATEN POSO YANG DAMAI, ADIL, SEJAHTERA, YANG DIDUKUNG SUMBER DAYA MANUSIA YANG ANDAL DAN BERMARTABAT

MISI :

  1. Meningkatkan kondisi kehidupan masyarakat yang damai, aman, dan tentram dalam bingkai sintuwu maroso.
  2. Meningkatkan dan menguatkan ekonomi kerakyatan yang berbasis usaha kecil menengah (UKM), koperasi, bundes,pertanian, dan pariwisata.
  3. Meningkatkan prasarana dasar untuk mengatasi masalah perkotaan dengan perpedoman pada arahan tata ruang dan kelestarian lingkungan.
  4. Meningkatkan pemerataan dan pelayanan pendidikan maupun kesehatan yang berkeadlian berbasis nilai-nilai sosial, agama, dan kearifan lokal.
  5. Mewujudkan tata kelola pemerintahan daerah  dan pemerintahan desa melalui reformasi birokrasi.

 

SEJARAH POSO

Kabupaten Poso adalah sebuah kabupaten di provinsi Sulawesi Tengah, Indonesia. Kabupaten ini mempunyai luas sebesar 24.197 km² dan berpenduduk sebanyak 132.032 jiwa (2000). Ibu kota kabupaten ini terletak di Kota Poso.
Sejarah
Pada mulanya penduduk yang mendiami daerah Poso berada di bawah kekuasaan Pemerintah Raja-Raja yang terdiri dari Raja Poso, Raja Napu, Raja Mori, Raja Tojo, Raja Una Una, dan Raja Bungku yang satu sama lain tidak ada hubungannya.
Keenam wilayah kerajaan tersebut di bawah pengaruh tiga kerajaan, yakni : Wilayah Bagian Selatan tunduk kepada Raja Luwu yang berkedudukan di Palopo, sedangkan Wilayah Bagian Utara tunduk dibawah pengaruh Raja Sigi yang berkedudukan di Sigi (Daerah Kabupaten Donggala), dan khusus wilayah bagian Timur yakni daerah Bungku termasuk daerah kepulauan tunduk kepada Raja Ternate.
Sejak Tahun 1880 Pemerintah Hindia Belanda di Sulawesi Bagian Utara mulai menguasai Sulawesi Tengah dan secara berangsur-angsur berusaha untuk melepaskan pengaruh Raja Luwu dan Raja Sigi di daerah Poso.
Terbagi Dua
Pada 1918 seluruh wilayah Sulawesi Tengah dalam lingkungan Kabupaten Poso yang sekarang telah dikuasai oleh Hindia Belanda dan mulailah disusun Pemerintah sipil. Kemudian oleh Pemerintah Belanda wilayah Poso dalam tahun 1905-1918 terbagi dalam dua kekuasaan pemerintah, sebagian masuk wilayah Keresidenan Manado yakni Onderafdeeling (kewedanan) Kolonodale dan Bungku, sedangkan kedudukan raja-raja dan wilayah kekuasaanya tetap dipertahankan dengan sebutan Self Bestuure-Gabieden (wilayah kerajaan) berpegang pada peraturan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Belanda yang disebut Self Bestuure atau Peraturan adat Kerajaan (hukum adat).
Pada 1919 seluruh wilayah Poso digabungkan dialihkan dalam wilayah Keresidenan Manado di mana Sulawesi tengah terbagi dalam dua wilayah yang disebut Afdeeling, yaitu: Afdeeling Donggala dengan ibu kotanya Donggala dan Afdeeling Poso dengan ibu kotanya kota Poso yang dipimpin oleh masing-masing Asisten Residen.
Sejak 2 Desember 1948, Daerah Otonom Sulawesi Tengah terbentuk yang meliputi Afdeeling Donggala dan Afdeeling Poso dengan ibuk otanya Poso, yang terdiri dari tiga wilayah Onder Afdeeling Chef atau lazimnya disebut pada waktu itu Kontroleur atau Hoofd Van PoltselykBestuure (HPB).
Distrik Sulawesi Tengah
Ketiga Onderafdeeling ini meliputi beberapa Landschap dan terbagi dengan beberapa distrik yakni :
Onderafdeeling Poso, meliputi:Landschap Poso Lage berkedudukan di Poso, Landschap Lore berkedudukan di Wanga, Landschap Tojo berkedudukan di Ampana, Landschap Una Una berkedudukan di Ampana.
Onderafdeeling Bungku dan Mori meliputi : Landschap Bungku berkedudukan di Bungku, Landschap Mori berkedudukan di Mori.
Onderafdeeling Luwuk meliputi : Landschap Banggai berkedudukan di Luwuk.
Onderafdeeling Donggala
Onderafdeeling Palu
Onderafdeeling Toli Toli
Onderafdeeling Parigi
Kemudian pada tahun 1949 setelah realisasi pembentukan Daerah Otonom Sulawesi Tengah disusul dengan pembentukan Dewan Perwakilan Rakyat Sulawesi Tengah. Pembentukan Daerah Otonom Sulawesi Tengah merupakan tindak lanjut dari hasil Muktamar Raja-Raja se-Sulawesi Tengah pada tanggal 13-14 Oktober 1948 di Parigi yang mencetuskan suara rakyat se-Sulawesi Tengah agar dalam lingkungan Pemerintah Negara Indonesia Timur (NIT). Sul-Teng dapat berdiri sendiri dan ditetapkan bapak Rajawali Pusadan Ketua Dewan Raja-Raja sebagai Kepala Daerah Otonom Sulawesi Tengah.
Daerah Otonom
Selanjutnya, dengan melalui beberapa tahapan perjuangan rakyat Sulawesi Tengah melalui Dewan Perwakilan Rakyat Sulawesi Tengah yang dipimpin oleh A.Y Binol pada tahun 1952 dikeluarkan PP No. 33 thn 1952 tentang pembentukan Daerah Otonom Sulawesi Tengah yang terdiri dari Onderafdeeling Poso, Luwuk Banggai dan Kolonodale dengan Ibukotanya Poso dan daerah Otonom Donggala meliputi Onderafdeeling Donggala, Palu, Parigi, dan Toli Toli dengan Ibukotanya Palu.
Pada tahun 1959 berdasarkan UU No. 29 Thn 1959 Daerah Otonom Poso dipecah menjadi dua daerah Kabupaten yakni : Kabupaten Poso dengan Ibukotanya Poso dan Kabupaten Banggai dengan Ibukotanya Luwuk.
Kepala daerah
Bupati Kepala Daerah yang pernah memerintah di Kabupaten Poso:
R. Pusadan (1948-1952)
Abdul Latif Dg. Masiki (1952-1954)
Alimoeddin Dg. Matiro (1954-1956)
Djafar Lapasere (1956-1957)
S.Kabo (1957-1959)
A. Wahab (1959-1960)
Ngitung (1960-1962)
Drs. B.L Sallata (1962-1966)
Drs. Galib Lasahido (1967-1973)
Drs. R.P.M Koeswandi (1973-1984)
Soegiono (1984-1988)
Drs. J.W Sarapang (1988-1989)
Arief Patanga (1989-1999)
Drs. H. Abdul Muin Pusadan (1999-2004)
Andi Azikin Sayuti (2004-2005)
Drs. Piet Ingkiriwang (2005 - sekarang)

LAMBANG DAERAH DAN ARTI

ARTI LAMBANG DAERAH KABUPATEN POSO
Lambang Daerah Kabupaten Poso ditetapkan dengan peraturan Daerah Kabupaten Poso No.43 Tahun 1967,yang terdiri dari 7(tujuh) bagian yaitu :
1.    Perisai bersudut lima dengan bingkai merah
2.    Lingkaran berwarna putih
3.    Bintang bersudut dengan bersinar lima (berwarna kuning emas)
4.    Baruga (Balai kampung)
5.    Buah padi berwarna kuning emas  dan daun kelapa berwarna hijau melingkar
6.    Gunung,Hutan,Daratan dan Lautan
7.    Pita berwarna kuning emas (sebelah atas) bertulis nama daerah  “ KABUPATEN POSO ” ,(tulisan hitam) dan pita warna kuning emas (sebelah bawah) bertuliskan semboyan  : “SINTUWU MAROSO “.   

  1. PENGERTIAN
    1.    Perisai bersudut lima menunjukan bahwa Daerah Kabupaten Poso adalah merupakan bagian dari Negara Republik Indonesia yang berdasarkan pancasila dan merupakan “Perisai” dalam membela dan mempertahankan Negara Pancasila
    2.    Warna hijau tua pada perisai melukiskan bahwa daerah Kabupaten Poso adalah suatu daerah yang penuh dengan hutan–hutan dan daratan-daratan  yang subur dengan hasil–hasilnya terkenal didalam maupun luar negeri.
    3.    Bingkai yang berwarna merah menunjukan sifat Kepahlawanan dan Keperwiraan  rakyat yang bersama-sama dengan pemerintah Kabupaten Poso  siap sedia menghadapi segala tantangan  yang mau merongrong Pancasila dan dengan semangat bertekad bulat memajukan daerah.
    4.    Bundaran berwarna putih bersih  menunjukan kehidupan rakyat  Kabupaten Poso  yang suci,putih hati dan hati tetap terbuka untuk musyawarah,ramah tamah dan lemah lembut dalam pergaulan baik dengan suku-suku bangsa lainnya dalam Negara Republik Indonesia,mau pun dengan bangsa – bangsa lainnya di dunia
    5.    Bintang bersudut dan bersinar lima berwarna kuning emas  mengartikan sinar dan cahaya cemerlangnya ke Tuhan Yang Maha Esa
    6.    Baruga nenunjukan lambang dari sifat – sifat asli penduduk Kabupaten Poso dari masa ke masa sebagai pencerminan dari jiwa masyarakat untuk mufakat,tetap memelihara persatuan dan kesatuan.
    Baruga ini mempunyai :
    -    8 (delapan) tiang berwarna hitam dan 2 (dua) balak melintang juga berwarna hitam,melukiskan bahwa Kabupaten Poso adalah daerah penghasil kayu hitam (kayu Ebony) yang terkenal
    -    Batu alas dasar dari Baruga yang berwarna abu – abu yang terdiri dari 5 (lima) buah melukiskan Pancasila yang murni sebagai falsafat  Negara RI sebagai mana dilukiskan dalam Undang – Undang Dasar 1945
    -    Lukisan tanduk kerbau berwarna hitam dipuncak ujung sebelah – menyebelah pada Baruga,melukiskan bahwa binatang kebau mempunyai sejarah tersendiri  dan penting artinya dalam hidup dan penghidupan rakyat di daerah ini,baik menurut hukum adat dan sebagainya.
    7.    Buah padi berwarna kuning emas dan kelapa berwarna hijau
    -    Buah padi berwarna kuning emas merupakan salah satu sumber penghidupan rakyat di daerah Kabupaten Poso dan melukiskan harapan dimasa depan dalam menjadikan daerah ini sebagai lumbung pangan Sulawesi Tengah
    -    Daun kelapa berwarna hijau menggambarkan bahwa hasil utama Kabupaten ini adalah Kopra   
    8.    Buah padi yang berjumlah 17 (tujuh belas) tiang baruga yang bejumlah 8 (delapan) dan daun kelapa yang berjumlah 45 (empat puluh lima) melukiskan Hari Proklamasi 17 Agustus 1945.
    9.    Gunung ,hutan,daratan dan lautan melukiskan bahwa Kabupaten Poso adalah suatu daerah yang bergunung – gunung  dan berbukit – bukit yang dalam perut buminya terdapat mineral - mineral / logam melimpah dan hutan –hutannya mempunyai hasil yang tidak ternilai.Daratan dan Lautan diatas melukiskan bahwa Kabupaten Poso terdiri dari daratan dan pulau – pulau besar  dan kecil yang bertebaran di laut.
    10.     Pita berwarna kuning emas (sebelah atas bertuliskan dengan warna hitam nama daerah) “ KABUPATEN POSO “ semboyan   “ SINTUWU MAROSO “ bermakna  Bersatu Teguh.

SELAYANG PANDANG

Selayang Pandang
Kabupaten Poso adalah salah satu kabupaten yang berada di Provinsi di Sulawesi Tengah yang beribu kota Poso. Posisi Kabupaten Poso terletak ditengah-tengah pulau Sulawesi yang merupakan jalur strategis yang menghubungkan antar provinsi di pulau Sulawesi.
Setelah menjadi induk pemekaran dua kabupaten yaitu Kabupaten Tojo-Unauna dan Kabupaten Morowali, Kabupaten Poso saat ini memiliki luas 8.712,25 Km2 atau 12,81 persen dari luas daratan Provinsi Sulawesi Tengah.  Kabupaten Poso terdiri dari 18 kecamatan yaitu :
1.    Kecamatan Pamona Selatan
2.    Kecamatan Pamona Barat
3.    Kecamatan Pamona Tenggara
4.    Kecamatan Pamona Timur
5.    Kecamatan Pamona Utara
6.    Kecamatan Lore Selatan
7.    Kecamatan Lore Barat
8.    Kecamatan Lore Utara
9.    Kecamatan Lore Tengah
10.    Kecamatan Lore Timur
11.    Kecamatan Lore Peore
12.    Kecamatan Poso Pesisir
13.    Kecamatan Poso Pesisir Utara
14.    Kecamatan Poso Pesisir Selatan
15.    Kecamatan Poso Kota
16.    Kecamatan Poso Kota Selatan
17.    Kecamatan Poso Kota Utara
18.    Kecamatan Lage
yang membawahi 133 desa definitif, dan 23 kelurahan