Jum11242017

Last update12:49:03 AM GMT

Font Size

Profile

Menu Style

Cpanel
Back Home BARUGA PENDIDIKAN KESEHATAN DAN TRANSPORTASI Kesehatan Sepulang Dari China Bupati Poso Paparkan Hasil Studi Pemberantasan Schistosomiasis

Sepulang Dari China Bupati Poso Paparkan Hasil Studi Pemberantasan Schistosomiasis

alt

Keberhasilan China dalam pemberantasan schistosomiasis, karena dukungan kuat dari seluruh instansi mulai dari pusat hingga desa yaitu dengan mendirikan satu kantor Departemen Khusus Institut Nasional Penyakit Parasit dan Pengendalian (NIPD) schistosomiasis, jelas Darmin di dampingiKepala Dinas Kesehatan, PU, Dinas Pertanian dan Peternakan serta Kepala Balitbangda Kabupaten Poso, diruang kerjanya.

“Departemen itu, melibatkan semua instansi hingga ke desa-desa yang terkena penyakit schistosomiasis dengan anggaran yang banyak. Sementara untuk Indonesia khususnya Kabupaten Poso, penanganannya masih bersifat sektoral hanya melalui Dinas Kesehatan” ungkap Bupati Poso.

Menurutnya, pembentukkan departemen khusus seperti di Tiongkok itu telah diusulkan kepada kementerian kesehatan. Dirinya berharap ke depan pemberantasan schistosomiasis bisa menerapkan cara yang dilakukan negara Tirai Bambu itu."Ke depan kami akan melakukan seperti di China, dan saat di China saya sudah mengusulkan kepada kementerian kesehatan agar mendirikan departemen khusus," katanya.

Selain Bupati Poso, dinas terkait yang berangkat ke china juga memaparkan hasil berdasarkan bidang masing-masing, terkait pemberantasan penyakit keong.

Menurut Kadis Kesehatan Poso, dr Taufan Karwur mengatakan bahwa hal yang bisa dikutip dari Tiongkok dalam memberantas penyakit schisto adalah keterpaduan seluruh Intansi. Jika penanganannya hanya oleh Dinas Kesehatan saja, dipastikan tidak dapat memutuskan mata rantai penyebaran penyakit.
Selama ini, katanya, pemberantasan hanya dengan pemberian obat schistosomiasis kepada pasien padahal yang juga harus diberantas adalah tempat hidup cacing keong pembawa schistosoma di air yang lembab dan tergenang yang tidak terkena sinar matahari.“Disana, mereka menggunakan penyemprotan molluscicide (racun pembunuh keong). saat ini sudah terdapat 500 fokus habitat schistosomiasis yang tersebar di dataran Bada dan Napu," ujarnya.

Sedangkan Kadis Pertanian dan Peternakan, Herningsi Tampai mengatakan bahwa di China, semua lokasi yang terkena fokus habitat keong dibanguni jaringan irigasi tersier, lahan pertanian, dan binatang ternak dan liar seperti tikus dilakukan pengambilan sample kotoran.Sebab katanya, penyebaran penyakit dapat melalui kotoran hewan yang sempat lama di lokasi fokus dan menyebar kepada manusia melalui lubang pori. Untuk itu, kedepan Dinas Pertanian akan membangun jaringan irigasi di lokasi fokus agar tidak ada air yang tergenang dan akan menanam tanaman kopi dan kakao sehingga lokasi hutan hidupnya schistosomiasis akan terbuka dan kena sinar matahari.


Sementara Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU), Faidul Keteng mengatakan sesuai dengan pola pemberantasan schistosomiasis di Tiongkok, semua desa-desa yang terkena fokus schistosomiasis dibangun irigasi sekunder yang lebih besar dengan saluran tersier.

Selain itu di lokasi fokus schistosomiasis dibangun jalan untuk memudahkan akses kendaraan roda empat untuk mempermudah petugas kesehatan mengamati dan meninjau lokasi itu. “Semua desa yang kena penyakit itu diberikan bantuan MCK sehingga kotoran tidak menyebar ke tempat lain atau menular ke makhluk hidup” tutup Faidul Keteng.